TEORI KOMUNIKASI : DISONANSI KOGNITIF OLEH LEON FESTINGER

Hai semuanya! Apa kabarnya?

Alhamdulillah, pada kesempatan ini saya dapat berbagi sedikit coretan saya mengenai teori komunikasi. hehehe. Sebenarnya tulisan ini juga didasari atas ketidaknyamanan (disonansi) atau keterpaksaan dari perintah dosen. Semoga dosennya tidak baca ini, hehe.

Oke langsung saja baca coretan saya di bawah yak! barangkali bermanfaat.

Teori-teori komunikasi sangatlah luas kajiannya, mulai dari teori komunikasi interpersonal, teori komunikasi kelompok, teori komunikasi massa, dan lain sebagainya. Pada kesempatan ini, penulis akan menjabarkan satu teori dari rumpun psikologi sosial, teori komunikasi antarpribadi lebih tepatnya masuk dalam pendekatan teoritis komunikasi persuasif. Teori yang akan penulis paparkan di bawah ini adalah teori Disonansi Kognitif karya Leon Festinger.

Secara etimologi, disonansi berarti kondisi tidak seimbang (lawan dari “konsonansi” yang berarti kondisi seimbang). Disonansi atau keadaan tidak seimbang terjadi karena dua atau lebih unsur kognisi yang saling tidak sesuai atau bertentangan. Unsur-unsur kognisi penyebab disonansi menurut Festinger dapat berupa pengetahuan, pendapat, kepercayaan terhadap lingkungan, juga tentang diri atau perilaku seseorang. Khusus untuk pengetahuan, Brehm dan Cohen (1962) mengatakan bahwa pengetahuan berkaitan dengan perasaan, perilaku, dan pendapat –seperti pengetahuan tentang penempatan objek yang tepat, cara memperolehnya, apa orang lain mempercayainya, dan seterusnya. Bila seseorang memiliki ketidaksesuaian unsur konitif, ia berada dalam ketegangan, sehingga terjadi ketidakseimbangan dalam dirinya (Hendri, 2019: 175).

Di buku A Theory of Cognitive Disonance, Festinger dengan tegas mengemukakan bahwa teorinya banyak dipengaruhi teori psikologi lapangan (field theory) Kurt Lewin. Teori Lewin merupakan pengembangan dari konsep konsistensi dalam kognisi manusia yang dikenalkan Jean Piaget. Para ahli psikologi sosial umumnya sependapat dengan Festinger bahwa manusia pada dasarnya konsisten dengan sesuatu yang sesuai dengan sikapnya. Konsistensi sikap biasanya diikuti dengan berbagai tindakan dan tingkah laku, hingga akhirnya keduanya saling terkait. Namun, pada kondisi tertentu ada kecenderungan manusia untuk tidak bersikap bertentangan dengan tingkah lakunya. Kondisi ini berpotensi menghindari konflik dengan sikap yang diyakininya (Hendri, 2019: 176).

Festinger mengemukakan perubahan sikap dapat juga terjadi karena adanya cognitive dissonance. Cognitive dissonance ialah keadaan tidak menyenangkan ketika ada sikap inkonsisten dengan tingkah laku, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan. Keadaan tidak menyenangkan membuat sikap dan tingkah laku seseorang dalam posisi tidak seimbang, hingga ia berusaha mencari penyesuaian. Untuk menghindari ketidakseimbangan, individu mengubah sikap agar sejalan degan tingkah laku. Sebaliknya tingkah laku disesuaikan dengan sikap. Usaha mencapai titik keseimbangan ini juga menjadi tema utama teori keseimbangan (Hendri, 2019:176).

Dalam ilmu komunikasi, teori kognitif terutama digunakan dalam produksi dan penafsiran pesan, salah satunya mengenai organisasi sikap berdasarkan prinsip konsistensi dalam teori disonansi kognitif. Relevansinya dengan komunikasi persuasi terletak pada usaha untuk memperkirakan apakah pesan tersebut sampai kepada khalayak penerima atau tidak. Ini sesuai pandangan West dan Turner (2007) yang mengatakan disonansi kognitif berguna bagi para perancang pesan persuasi agar pesannya sampai pada khalayak tanpa menimbulkan disonansi.

Menurut Theory of Reasoned Action (Fishbein dan Ajzen, 1980) di antara variabel sikap dan perilaku (tindakan) ada yang akan melakukan suatu tindakan didasari oleh maksud tertentu. Simons mencontohkan diskrepansi sikap perilaku dari pegawai yang membenci atasannya, namun jabatan menuntut ia harus berbuat baik, sopan dan ramah.

Hal demikian juga dapat terjadi ketika kita berteman dengan seseorang yang tidak kita sukai karena perbedaan perilaku dan sikap mereka yang bertentangan dengan kita. Kita terpaksa berteman dengan mereka karena tuntuan tugas kelompok atau kondisi yang tertekan, hal ini dilakukan atas dasar maksud tertentu. Kita menjadi mengurangi ketidaksesuain tersebut dengan mencoba memaksakan diri kita menerima itu.

Ketidaksesuaian komponen sikap (attitude component discrepancies) merupakan ketidakkonsistenan di antara dua sikap, kepercayaan, maupun nilai yang berhubungan dengan orang lain. Festinger (1957) menekankan bahwa perubahan sikap tidak secara otomatis mengikuti berbagai pengalaman disonansi kognitif. Manusia mengatur hidupnya dengan sebagian disonansi, misalnya ditujukan adanya pergeseran sikap. Berikut ini gambar penjelasan secara sederhana dari teori disonansi kognitif oleh Leon Festinger:

Sumber: http://www.dictio.id

Dari gambar di atas tampak bahwa orang berusaha mengarah pada posisi konsistensi sebagai tujuan akhir sikap. Tindakan dan kepercayaan yang mereka rasakan cenderung menimbulkan kondisi tidak seimbang (disonansi). Untuk sampai pada posisi seimbang (konsonansi), seseorang melakukan upaya mengubah kepercayaan tindakan dan persepsi terhadap objek sikap. Lebih lanjut, teori disonansi kognitif memfokuskan pada perubahan karakter individual demi mencapai titik keseimbangan sikap dan perilaku. Perubahan sikap merupakan akibat dari ketidakkonsistenan secara psikologis mengenai sesuatu yang diketahui seseorang, bagaimana dia bertindak, serta bagaimana memperlakukan ketidakkonsistenan tersebut.

Contoh kasus dari teori disonansi kognitif, Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) oleh pegawai pemerintah yang kurang familiar dengan perangkat tersebut. Banyak diantara mereka menolak, bahkan apatis terhadap kehadiran teknologi dengan berbagai alasan. Seiring perkembangan zaman, walau ada pertentangan di dalam batinnya, mau tidak mau para pegawai pemerintah tadi akhirnya “memaksa diri” mengubah pandangan terhadap teknologi. Pandangan atau sikap negatif terhadap kehadirian teknologi informasi berubah menjadi pandangan positif.

Lalu, timbullah pertanyaan bagaimana sih mengatasi kondisi disonansi kognitif? Nah, apabila teman-teman berada dalam kondisi tersebut, berikut ini rekomendasi untuk mengatasi kondisi disonansi kognitif:

  1. Menolak atau menghindari informasi yang saling bertentangan

Seringkali, orang menyelesaikan disonansi dengan menolak dan membuang pengetahuan yang saling bertentangan tersebut. Mereka mungkin membatasi paparan kepada diri mereka terhadap segala jenis informasi baru yang tidak selaras dengan keyakinan mereka. Hal ini disebut sebagai tindakan bias konfirmasi. Salah satu contohnya adalah menolak sumber berita tertentu dengan menggambarkannya sebagai bias atau salah. Orang-orang seperti ini cenderung teguh terhadap pendirian mereka, tidak mau disalahkan atau menolak adanya intervensi dari pihak lain yang tentunya bertentangan dengan mereka. Tindakan seperti ini biasanya dilakukan oleh mereka yang mendapat label fanatik, kolot, dan merasa paling benar sendiri.

2. Membujuk dan membenarkan

Individu dapat menyakinkan diri sendiri bahwa tidak ada konflik. Mereka mungkin mencari dukungan dari orang lian yang memiliki kepercayaan yang sama atau mencoba meyakinkan orang lain bahwa informasi baru tidak akurat. Atau, seseorang dapat menemukan cara untuk membenarkan perilaku yang bertentangan dengan keyakinan mereka. Misalnya, seseorang yang merokok walaupun mengetahui bahwa itu buruk bagi kesehatannya, mereka dapat merasionalisasikan perilaku tersebut dengan dasar bahwa itu membantu mereka bersosialisasi dengan orang lain.

Jenis mengatasi kondisi disonansi kognitif ini cenderung dilakukan oleh untuk menemukan atau membentuk kelompok orang-orang yang memiliki keyakinan yang sama. Mereka membentuk suatu suara dominan yang mendukung keyakinan mereka agar merasa kuat dan benar, hal ini dapat meminimalisir ketidaksesuaian kognitif pada diri mereka.

3. Rekonsiliasi perbedaan

Seseorang dapat mendamaikan perbedaan dengan berhenti makan daging karena mereka mencintai binatang. Metode mengurangi disonansi ini mungkin yang paling efektif, tetapi juga paling menantang untuk diterapkan. Kita memaksakan diri untuk mengubah dan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan kita.

Rekonsiliasi perbedaan antara keyakinan yang saling bertentangan atau antara tindakan dan keyakinan adalah bentuk pertumbuhan pribadi. Salah satu contoh mendamaikan perbedaan adalah ketika seseorang berhenti makan daging karena mereka mencintai binatang atau tidak suka berpikir untuk membunuh mereka.

Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa teori disonansi kognitif adalah teori yang menggambarkan seseorang yang berada dalam kondisi ketidaksesuaian antara sikap dan perilakunya. Ketidaksesuaian atau tidak seimbang (disonansi) bisa berupa pengetahuan, kepercayaan atau keyakinan terhadap lingkungan, perasaan, atau tentang diri pribadi seseorang. Orang mengalami ketidaknyamanan ketika mereka memiliki keyakinan yang bertentangan atau ketika tindakan mereka bertentangan dengan keyakinan mereka.  Oleh karena itu, orang tersebut akan mencoba mengurangi disonansi untuk menghilangkan ketidaknyamanan. Dorongan tersebut disebut dengan prinsip konsistensi kognitif.

Perlu untuk kita ketahui bersama, disonansi kognitif tidak selamanya berkenaan ketika seseorang memiliki keyakinan yang berlawanan. Mereka juga dituntut untuk memiliki kesadaran akan ketidakkonsistenan dan merasa tidak nyaman. Lalu, tidak semua orang mengalami disonansi kognitif ditingkat yang sama. Beberapa orang memiliki toleransi yang lebih terhadap ketidaknyamanan  dan ketidakkonsistenan, kemudian memungkinkan mereka untuk mengalami disonansi kognitif yang lebih sedikit daripada mereka yang membutuhkan konsistensi. Jadi intinya, kadar disonansi kognitif tiap individu itu berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Demikian yang dapat Penulis paparkan mengenai teori Disonansi Kognitif. Semoga apa yang telah Penulis paparkan dapat dimengerti dan bermanfaat bagi kita semua. Terimakasih atas kesediaan pembaca yang telah membaca artikel ini hingga akhir.

Daftar Pustaka:

Hendri, Ezi. 2019. Komunikasi Persuasif: Pendekatan dan Strategi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Admin. 2020. “Contoh Disonansi Kognitif: Pengertian dan Dampak”. Dalam artikel https://apacontoh.com/disonansi-kognitif/ (diakses 10 Oktober 2020).





Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s